Kumpulan Kata Yang Menjadi Saksi Kehidupan

  • Saturday, April 18, 2015
  • By Ipan Setiawan
  • 0 Comments

Saksi perjalanan


jangipan.com-Catatan Perjalanan, Kau goreskan sejarah penuh makna, kita pernah menyelaminya bersama, mengukir dan mengukur keindahan dalam setiap perjalanan. Kini semua itu hanya ceritanya saja dan saksinya debu-debu yang menempel di ranselmu.

Jika kau sudah pergi lebih dulu, Aku akan tetap mengenangnya. Dua Tahun sudah tak terasa dirimu telah meninggalkanku sendirian, awalnya Aku Tak ingin mengungkap semua rasa ini. Namun baru saja ingatanku terbangunkan kembali, tumpukan Kaos yang menjadi saksi ketika kita bercengkrama dengan dunia. Walaupun itu hanya kaos saja, namun kekuatan dan sejarahnya begitu lekat dengan waktu yang sudah mempertemukan kita dulu.

Kau adalah sosok petualang yang tak mengenal lelah, itulah ilmu yang bisa Aku terapkan hari ini hingga nanti. Darimu Aku belajar lebih kawan, awalnya Aku cuek dengan keadaan, kini menjadi lebih peka, awalnya Aku malu untuk berbicara dan bergaul, kini lebih bawel dan selalu berinteraksi. Sayangnya semua perubahan dan prestasi ini tak bisa kita nkmati bersama, seperti dulu disaat kita maju dan berjuang perih dengan belepotan keringat mengejar dan mencari setiap informasi.

Yang bisa Aku kenang sampai saat ini adalah kata-kata mantramu, membius diriku untuk terus belajar menulis dan menulis, walaupun masih merangkak kaya bayi. Aku masih ingat disaat berjalan denganmu ditengah keramaian kota dan sesaknya perjalanan dengan lalu lalang orang. Kata-kata itu adalah "Pan, ini adalah hidupmu dan ini adalah kenyataanmu, sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja. alangkah baiknya kamu wajib mengabadikan dengan tulisan. Sependek apapun tulisan itu akan menjadi saksi penyimpanan sejarah yang bisa kita buka dan kenang kembali" 

Dia selalu memberikan motivasi bahkan terus mendorong untuk terus menulis setiap pagi. Sampai-sampai ketika bangun dia sudah menyiapkan buku kecil, pulpen dan kotak kecil berisi perlengkapan alat tulis, juga segelas air putih dan kopi hangat kesukaanku dimeja kecil yang dihasi dengan ornamen jerami. Dia adalah sosok sahabat sekaligus Kakak baru dalam hidupku, bahkan menjadi Guru kehidupan.

Aku masih ingat juga ketika malam menyapa di Malioboro-Yogyakarta, disela makan malam disebuah angkringan dia berkata "Tulis, Tulis dan Tulis" Sambil menunjukan pada keramaian kota ini. Aku menurutinya dan mulai menggoreskan kata-kata yang masih campur aduk. Yang membuat Aku takjub, pasti saja selalu ada secarik potongan kertas kecil dan pulpen disaku celananya. Dan tentu setiap kemanapun Dia pergi selalu mengabadikannya dengan potret dan tulisan, terutama ketika bersamaku, selalu memaksa padaku untuk bersikeras menulis. 

Selang beberapa bulan, Dia mengumpulkan potongan-potongan kertas kecil yang sudah Aku isi dengan tulisan singkat, dan Aku juga awalnya merasa heran dengan cara seperti itu. Aku hanya mengikuti dan terus belajar darinya. Ternyata potongan kertas yang sudah dituliskan itu dia satukan dan disusun dengan rapi, akhirnya persis seperti buku diary  tanpa sampul. Lalu Dia berkata "Tulisan ini jangan sampai hilang, suatu saat kamu akan membutuhkannya dan kamu bisa mengenangnya jika diperlukan"

Pertama kali Aku mengenal dengan tulis menulis ketika bertemu dan hidup bersamanya, berjuang dan bertempur dengan waktu. Walau harus berlari lelah bercucuran keringat yang terpenting terus bergerak dan menemukan sesuatu yang baru, itu adalah prinsipnya. Dia adalah petualang sejati hampir setengah dunia sudah ia kunjungi, Dia adalah Traveller sejati, Dia menobatkan dirinya sendiri untuk terus menikmati dunia yang indah ini tanpa perlu beban dari setiap tangan. Tapi Dia harus ikut membantu dan memberikan yang terbaik kepada Negeri dengan menjadi Relawan disebuah komunitas.

Aku juga tau dunia internet dan blog ini berkat motivasi darinya, 6 bulan membuat blog tanpa bantuan darinya, Dia hanya meberikan informasi ini dan mengarahkan selebihnya Aku yang harus bergelut dengan dunia blog ini (kalau teman-teman sekarang mungkin 30 menit sudah jadi ya? Maklum dulu saya tak begitu suka dengan TIK. Tapi sekarang jadi ketagihan) Mengapa Dia tak membantu dalam pembuatan Blog ini, Dia berkata "Belajarlah sendiri dulu supaya kamu lebih mandiri De, jika kamu terus meminta bantuan kamu tak akan pernah tau betapa serunya bergelut dengan tantangan"  itulah kata-kata Dia ketika Aku sudah membuka Laptop dan Dia sendiri memantau dari belakang sambil istirahat diayunan yang terpasang didua pohon jambu yang bersebrangan. Maklum saat itu Aku belajarnya dikebun kecil dibelakang rumahnya.


_BERSAMBUNG


You Might Also Like

0 komentar