Pahlawan Devisa, Mengukir Cerita di Negeri Sakura

  • Saturday, May 02, 2015
  • By Ipan Setiawan
  • 0 Comments

Dok.Foto: Kak Yanto Supriatna (Jepang)
Semakin menyempitnya lahan disetiap daerah, semakin mahalnya biaya pendidikan dan semakin tingginya angka pernikahan muda, ditambah lagi kurangnya keahlian yang dimiliki oleh setiap orang, maka akan semakin memperbesar dampak yang ditimbulkan dari perkembangan itu yang akhirnya akan mengalami perubahan dan perpindahan tempat dengan alasan mencari kehidupan yang lebih layak. Padahal jika jeli dan mampu menggunakan potensi yang ada didesa, itu lebih baik dan bisa mengurangi angka pengangguran dan mengurangi tumbuhnya buruh migrant yang hilir mudik.

Sebetulnya Indonesia itu kaya akan segalanya baik Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM) hanya saja belum terkelola dengan baik dan ini menjadi PR bersama dan PR paling besar untuk pemerintahan kita, yaaa upaya pemerintah memang sedang dijalankan namun belum maksimal perlu pergerakan dan kepedulian dari semua tentunya. 

Hal-hal yang memprihatinkan di Negeri tercinta ini adalah semakin pesatnya pertumbuhan penduduk dan kurangnya lapangan pekerjaan serta sedikitnya keahlian memberikan efek lebih besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan imigrant semakin memberi warna baru pada pergerakan buruh imigrant, memang tak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan setiap orang tak bisa dikompromikan. Kebutuhan yang mendesaklah yang membuat perubahan.

Setiap orang membutuhkan sumber kehidupan dan sumber penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terpaksa yang tadinya hanya menjadi buruh serabutan, kini mencari pekerjaan yang lebih layak dan bisa menetap dengan upah/gaji yang bisa menutupi kebutuhan setiap keluarga. Dan terpaksa karena lapangan pekerjaan didaerah tak memadai dan ditambah pula keahlian yang sangat terbatas, mau tidak mau harus singgah ke Negeri sebrang dengan resiko yang tinggi dan modal nekad hanya kemampuan tenaga semata. Dan itu dialami oleh keluarga saya sendiri.

Ini bukan cerita atau kisah orang lain, kisah dan sejarah ini dialami oleh keluarga saya sendiri, masih hangat untuk diangkat, hanya sekedar ingin berbagi cerita dan pengalaman saja, setelah saya (sebagai adiknya) ngobrol ringan sekilas kehidupan disana (Jepang) yang membuat segalanya lebih indah dan penuh makna. Kenapa? Ada apa disana? Tentunya, yang membuat keindahan dan makna dalam hidup kakak saya adalah sebuah proses yang mengajarkan beliau untuk lebih menghargai dan memiliki apa yang ada di Indonesia.

Singkat cerita, pada tahun 2011 kakak saya sebut saja kak Yanto, mengabdikan diri sebagai Pahlawan Devisa di Negeri Sakura (Jepang) keadaan ekonomi dan kebutuhan keluarga yang mendesak membuat suatu keputusan yang kuat harus beliau ambil, hingga akhirnya singgah selama 4 tahun di Negeri bunga indah itu. Bekerjanya beliau disana, tak semata-mata instan begitu saja langsung sampai ke Jepang, tapi harus mengikuti prosedur yang ada yaitu mengikuti pelatihan ketenagakerjaan selama beberapa bulan di Kota Bekasi, selama pelatihan itulah pemantapan dan pemahaman kerja serta bekal ilmu dipersiapkan dan dilatih, mulai dari bahasa dan pemantapan kerja lainnya.
Dok.Foto: Kak Yanto Supriatna
Setelah selesai mengurus berkas dan surat-surat berharga (Paspor dan sebagainya) serta telah dinyatakan lulus dan layak kerja pada akhir masa pelatihannya, beliau langsung berpijak di Negeri Sakura dan mengabdikan diri sebagai Pahlawan Devisa seutuhnya, dan Alhamdulillah setelah sampai disana tidak takut dan ragu harus bekerja dimana, karena sudah ditetapkan tempat untuk bekerjanya, alhasil tinggal kerja dan menyiapkan semangat dan tenaga untuk memulai perjalanan baru di negeri orang.
Dok.Foto: Kak Yanto Supriatna
Pekerjaan yang diambil saat itu hingga kini adalah sebagai petani didaerah Shimotsuma-Shi, Ibaraki Japan,  diperkebunan milik perusahaan produsen minuman dalam kemasan. Menurut beliau, mata pencaharian di Jepang dan di Indonesia hampir sama, hanya saja tempat dan upahnya saja yang membedakannya. Upah Jepang 10 kali lipat dengan upah petani Indonesia, walaupun upah yang besar tetap saja tingkat kenyamanannya jauh lebih nyaman di negeri sendiri. Dan itulah yang menjadi konsekuensinya menjadi Pahlawan Devisa. Harus menunda sejenak kerinduan terhadap tanah kelahiran. 
Dok.Foto: Kak Yanto Supriatna

Kedisiplinan yang ketat didalam dunia kerja dan persaingan yang kuat dalam sebuah jaringan pekerjaan, tentu membutuhkan semanggat dan tenaga yang lebih sportif dalam posisi seperti ini, yaaa wajar saja dimanapun tempat bekerjanya pastilah ada syarat dan ketentuan yang berlaku dan selalu ada persaingan yang kuat, itulah uniknya dunia kerja, namun yang membedakannya di Jepang adalah pelajaran akan menikmati sebuah prosesnya lebih banyak, mulai dari mempelajari kehidupan di Negeri Jepang sampai budaya yang lekat disana.
Dok.Foto: Kak Yanto Supriatna
Rasa rindu terhadap tanah air mungkin sudah sedikit terobati karena adanya komunitas atau perkumpulan orang-orang asli dari Indonesia yang saling menyatukan silaturahmi lewat karya dan cerita yang bisa dibagi dengan karya masing-masing, entah itu musik, menulis dan seni lainnya. Ada tempat khusus untuk berkumpul dan berbagi karya seru untuk mengobati rasa rindu terhadap tanah air.

Setelah bercerita panjang, saya jadi mendapat ilmu dan wawasan baru juga akan hal ini. Pahlawan devisa tak seperti yang orang lain katakan dan orang lain pikirkan, dalam artian tak semuanya pahlawan devisa memiliki nasib yang buruk di negeri tujuannya, tapi semua itu tergantung pada setiap orang yang menerima konsekuensinya, apakah sudah benar mengikuti pelatihan dan pendidikan selama di tempat pelatihan ketenagakerjaan yang diikuti?  Karena hal seperti itu pun bisa menentukan keberadaan dan penempatan kerja disana. Maka dari itu, sebelum menjadi Buruh Migrant ditempat yang ingin dituju, coba cari informasi mengenai tempat tujuan dan jenis pekerjaan apa saja yang bisa diikuti disana.

Pahlawan Devisa/Buruh Migrant bagaikan dua sisi mata pisau, untuk permasalah ekonomi dan kebutuhan setiap orang mungkin saja bisa diatasi dengan adanya lapangan pekerjaan diluar negeri sana yang bisa menutupi dan mencukupi segala kebutuhan dengan memberanikan diri untuk siap menanggung resiko apapun, entah itu kesehatan ataupun kondisi lingkungan yang ada disana. Disisi lain sangat miris memang, Indonesia yang luas memiliki keaneka ragaman alam dan budaya tak bisa mengelola dengan baik, yaa mungkin karena alasan faktor-faktor yang lainnya yang saat ini sedang digembar gemborkan diatas sana oleh para pemimpin kita, itu sih katanya tapi entahlah sampai kapan Negeri ini menjadi ekor dinegeri orang. Harusnya kepala negara lebih melek akan hal ini.

Selain saya bertanya kepada kakak sendiri, saya juga mengumpulkan data-data kepada para tetangga sekaligus teman saya yang pernah menjadi Buruh Migrant dibeberapa negara. Ternyata  pilihan yang mereka ambil menjadi Pahlawan Devisa ini bukan semata-mata panggilan hati yang terketuk dari sanu bari yang paling dalam, melainkan sebuah tuntutan atau bisa dikatakan sebagai "PAKSAAN HIDUP" untuk mengadu nasib dan memperjuangkan kehidupan keluarga.

"Yaaa, harus gimana lagi atuh Ipan, kalau saya tak berangkat dan kerja keluar sana, keluarga saya mau dikasi makan apa, masa mau dikasi batu? Batu juga harus dibeli toooh?!" itulah jawaban yang terucap dari tetangga, ketika saya bertanya dengan pilihan yang diambil. Menjadi Buruh Migran bisa dikatakan pilihan terakhir saudara-saudara kita ketika harus dihadapkan dengan tantangan dan tuntutan ekonomi yang mendesak.

Disisi lain ada sesuatu yang unik dan berbeda pandangan dan tanggapan, ketika saya mengunjungi salah satu teman saya yang pernah bekerja di Jepang juga, namun beda daerah dengan tempat kerja kakak saya. Dia mengungkapkan dengan penuh kepuasan sekaligus kebanggan mungkin setelah pulang dari Jepang beberapa minggu yang lalu, Dia mengungkapkan dengan penuh ekspresi dan luapan emosi yang semangat "Pan, jujur saya mah, kerja di Jepang itu bukan hanya sekedar ingin mencari kerja saja, justru saya pergi ke Jepang itu sekalian menumpahkan karya-karya saya yang tak pernah diterima sama sekali di Negeri sendiri, di Indonesia boleh lah bebepa kaset/CD rekaman dikirimkan ke beberapa label atau produksi musik daerah tak pernah dilirik karena beberapa faktor dan faktor terakhirnya adalah harus tebel duit. Tapi saya merasa bangga dan merasa dihargai ketika lagu-lagu ciptaan saya di Jepang diapresiasi oleh setiap orang yang mendengarkan, sekalipun lagu yang saya bawakan itu dinyanyikan dijalanan (ngamen) mereka (orang Jepang) sangat mengahrgai setiap karya orang lain dan mereka selalu mengapresiasi karya-karya yang hadir walaupun karya yang diciptakan bukan karya warga asli Jepang" 

Ternyata bukan hanya faktor ekonomi dan kurangnya lapangan pekerjaan saja yang bisa mempengarugi faktor terjadinya peningkatan buruh migrant, tapi kurangnya apresiasi dari dalam negeri pun bisa mempengaruhi. Wajar saja, Negeri ini sedang dihadapkan pada bebepa krisis diantaranta krisis modernisasi. Maka dari itu untuk memperkecil angka buruh migrant, sudah saatnya ditumbuhkan kembali rasa solidaritas dari semua pihak untuk menciptakan dan membangun negeri tanpa ada yang tersisihkan.

Disisi lain Buruh Migrant juga merupakan Pahlawan Devisa yang sangat berharga untuk negara yang selalu memberikan sumbangsih besar dan itu bisa dikatakan nilai positif. Mereka (Buruh Migrant) juga sama ingin menikmati kebebasan dan kebahagiaan selayaknya keluarga yang ideal yang bisa menikmati hidup selalu bersama memadu kisah kasih bersama suami/istri serta buah hati tercinta, namun apa boleh dikata, nasib memang tak sama, harus ada jeda dan pengorbanan yang harus ditebus. Saat ini dan nanti mungkin akan ada perubahan yang lebih baik. Itulah penggalan harapan yang dicurahkan oleh saudara-saudara kita yang sedang berjuang di negeri sana.
..................................................................................................................................................
**Tulisan ini diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migran Indonesia Bersama Melanie Subono

You Might Also Like

0 komentar