Kelas Pagi - Seperti biasa pembelajaran mata kuliah online rutin dilakukan setiap pagi, dengan semangat Bapak/Ibu Dosen, begitu juga dengan Kami sebagai Mahasiswa siap semangat untuk menyimak pembelajaran ilmu dan pengetahuan baru. 


Nah, pada kesempatan kali ini di Kelas Pariwisata Internasional, dengan Dosen Pengampu Pak Deden Rukmana, untuk teman-teman Mahasiswa, sudah tau dong khas Pak Deden kalau lagi mengisi kelas bagaimana? 😁😁 Yesss, selalu menjadi tantangan baru untuk mengeksplorasi ide, kreativitas, dan tentunya menggali wawasan baru tentang destinasi wisata yang sedang in dan tentunya. 


Tak hanya itu beliau juga selalu mengulas tentang topik yang berkaitan dengan inovasi Pariwisata baik lokal maupun mancanegara, pada kesempatan kali ini beliau mengulas tentang Ecotourism yang menjadi tema kelas pagi di bulan baru, 2 Maret 2021. 


Nah, diantara teman-teman apakah sudah ada yang tau, atau sering mendengar kata Ecotourism? Sebenarnya, Ecotourism itu apa sih? 🙂☺️ 


Kalau menurut informasi yang jangipan dapatkan dari beberapa sumber, bahwa "Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan."


Dalam ekowisata ada empat unsur yang dianggap amat penting, yaitu unsur pro-aktif, kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, keterlibatan penduduk lokal, unsur pendidikan. Wisatawan yang datang tidak semata-mata untuk menikmati alam sekitarnya tetapi juga mempelajarinya sebagai peningkatan pengetahuan atau pengalaman. 


Adapun beberapa pakar menyebutkan bahwa Ecotourism adalah: 

1. Australian National Ecoutourism Strategy, 1994:

Ekowisata adalah wisata berbasis alam yang berkaitan dengan pendidikan dan pemahaman lingkungan alam dan dikelola dengan prinsip berkelanjutan.


2. Alam A. Leq, Ph.D. The Ecotourism Market in The Asia Pacific Region, 1996:

Ekowisata adalah kegiatan petualangan, wisata alam, budaya, dan alternatif yang mempunyai karakteristik:


Adanya pertimbangan yang kuat pada lingkungan dan budaya lokal

Kontribusi positif pada lingkungan dan sosial-ekonomi lokal

Pendidikan dan pemahaman, baik untuk penyedia jasa maupun pengunjung mengenai konservasi alam dan lingkungan.


3. Hector Cebollos Lascurain, 1987:

Ekowisata adalah wisata ke alam perawan yang relatif belum terjamah atau tercemar dengan tujuan khusus mempelajari, mengagumi, serta perwujudan bentuk budaya yang ada di dalam kawasan tersebut.


4. Linberg and Harkins, The Ecotourism Society, 1993:

Ekowisata adalah wisata alam asli yang bertanggungjawab menghormati dan melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.


Kalau kita simpulkan dari batasan yang dikemukakan di atas, kita dapat memberikan batasan yang lebih sederhana sebagai berikut:


Ekowisata adalah suatu jenis pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan aktivitas melihat, menyaksikan, mempelajari, mengagumi alam, flora dan fauna, sosial-budaya etnis setempat, dan wisatawan yang melakukannya ikut membina kelestarian lingkungan alam di sekitarnya dengan melibatk an penduduk lokal. 


Perbedaan batasan antara ekowisata dengan pariwisata “biasa”

Batasan ekowisata hendaknya memiliki ciri khusus dan berbeda dengan batasan tentang pariwisata yang biasa kita kenal. Dalam hal ini kita dapat membedakannnya sebagai berikut:


1. Objek dan atraksi wisata

Baik obyek maupun atraksi yang dilihat adalah yang berkaitan dengan alam atau lingkungan, termasuk di dalamnya alam, flora dan fauna, sosial dan ekonomi, dari budaya masyarakat di sekitar proye yang memiliki unsur-unsur keaslian, langka, keunikan, dan mengagumkan.


2. Keikutsertaan wisatawan

Keikutsertaan seorang wisatawan berkaitan keingintahuan (curiousity), pendidikan (education), kesenangan (hoby), dan penelitian (research) tentang sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan sekitar.


3. Keterlibatan penduduk setempat

Adanya keterlibatan penduduk setempat, seperti penyediaan penginapan, barang/kebutuhan, memberikan pelayanan, tanggungjawab memlihara lingkungan, atau bertindak sebagai instruktur atau pemandu.


4. Kemakmuran masyarakat setempat

Proyek pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat di sekitar.


5. Kelestarian lingkungan

Proyek pengembangan ekowisata harus sekaligus dapat melestarikan lingkungan, mencegah pencemaran seni dan budaya, menghindari timbulnya gejolak sosial, dan memlihara kenyamanan dan keamanan.


Kebijaksanaan Pengembangan Ekowisata

Kebijaksanaan pengembangan ekowisata dapat dilihat dari ruang lingkup kepentingan nasional, seperti dijelaskan Undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur kebijaksanaan pengembangan ekowisata sebagai berikut:


UU no.4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Lingkungan Hidup

Kepmen Parpostel No.KM.98/PW.102/MPPT-1987 tentang Ketentuan Usaha Obyek Wisata.

Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No.Kep.18/U/11/1988 tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha Obyek Wisata dan Daya Tarik Wisata.

Surat Keputusan Bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Parpostel No.24/KPTS-11/89 dan No.KM.1/UM.209/MPPT-1998 tentang Peningkatan Koordinasi dua instansi tersebut untuk mengembangkan Obyek Wisata Alam sebagai Obyek Daya Tarik Wisata.

UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem.

UU. No.9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.

UU. No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruangan.

UU No.5 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konservasi Keanekaragaman Hayati.

Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Alam di zona pemanfaatan kawasan pelestarian alam.

Peraturan Pemerintah No.67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

Pada dasarnya, kebijakasanaan pengembangan ekowisata itu hendaknya dapat berpedoman pada hal-hal yang disebutkan sebagai berikut:


Dalam pembangunan, prasarana dan sarana sangat dianjurkan dilakukan sesuai kebutuhan saja, tidak berlebihan, dan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di daerah tersebut.

Diusahakan agar penggunaan teknologi dan fasilitas modern seminimal mungkin.

Pembangunan dan aktivitas dalam proyek dengan melibatkan penduduk lokal semaksimal mungkin dengan tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Masyarakat setempat dihimbau agar tetap memelihara adat dan kebiasaan sehari-hari tanpa terpengaruh terhadap kedatangan wisatawan yang berkunjung.

Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan atau pengelolaan suatu kawasan untuk dijadikan sebagai kawasan Ekowisata, harus memperhatikan 5 unsur yang dianggap paling menentukan, yaitu:


1. Pendidikan (Education)

Aspek pendidikan merupakan bagian utama dalam mengelola keberadaan manusia, lingkungan, dan akibat yang mungkin ditimbulkan bila terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam manajemen pemberdayaan lingkungan.


Misi tersebut tidak mudah karena untuk menjabarkan dalam satu paket wisata seringkali bentrok dengan kepentingan antara perhitungan ekonomi dan terjebak dalam misi pendidikan konservatif yang kaku.


2. Perlindungan atau Pembelaan (Advocasy)

Setiap pengelolaan ekowisata memerlukan integritas kuat karena kadang-kadang nilai pendidikan dari ekowisata sering terjadi salah kaprah. Misalnya, pada Taman Nasional seperti Raflesia di Bengkulu yang memiliki ciri-ciri yang khas atau unik, waktu sedang berkembang dipublikasikan secara gencar sebagai bunga langka yang tidak ada duanya di dunia. Lingkungan di sekitar bunga tersebut ditata sedemikian rupa dengan biaya yang relatif mahal dan berbeda dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Tindakan yang membangun infrastruktur secara berlebihan justru akan membuat perlindungan (Advocasy) terhadap bunga tadi menjadi tersamar.


Seharusnya, prasarana yang dibuat hendaknya mampu memberikan nilai-nilai berwawasan lingkungan dan menggunakan bahan-bahan di sekitar obyek itu walau kelihatan sangat sederhana. Dengan cara itu, keaslian dapat dipertahankan karena dengan kesederhanaan itu masyarakat di sekitar kawasan mampu mengelola dan mempertahankan kelestarian alam dengan sendirinya tanpa mengada-ada.


3. Keterlibatan komunitas setempat (Community Involvement)

Dalam pengelolaan kawasan ekowisata, peran serta masyarakat setempat tidak bisa diabaikan. Mereka lebih tahu dari pendatang yang punya proyek karena keterlibatan mereka dalam persiapan dan pengelolaan kawasan sangat diperlukan.


Mereka lebih mengetahui di mana sumber mata air yang banyak, ahli tentang tanaman dan buah-buahan yang bisa dimakan untuk keperluan obat, tahu mengapa binatang pindah tempat pada waktu-waktu tertentu, sangat mengerti mengapa semut berbondong-bondong meninggalkan sarangnya, karena takut banjir yang segera datang, misalnya.


4. Pengawasan (Monitoring)

Kita sangat menyadari bahwa budaya yang berkembang pada masyarakat di sekitar kawasan tidak sama dengan budaya pengelola yang pendatang. Dalam melakukan aktivitas, akan terjadi pergeseran yang lambat laun akan mengakibatkan hilangnya kebudayaan asli. Ini harus diusahakan jangan sampai terjadi.


Oleh karena itu, diperlukan pengawasan (monitoring) yang berkesinambungan sehingga masalah integritas, loyalitas, atau kualitas dan kemampuan untuk mengelola akan sangat menentukan untuk mengurangi dampak yang timbul.


5. Konservasi (Conservation)

Dari kasus itu, baik pengelola maupun wisatawan yang datang berkunjung harus menyadari bahwa tujuan pengembangan ekowisata adalah aspek konservasi bagi suatu kawasan dengan memperhatikan kesejahteraan, kelestarian, dan mempertahankan kelestarian lingkungan kawasan itu sendiri.


Memang diakui bahwa pengelola kawasan ekowisata ibarat memiliki pisau yang harus dilihat dari dua sisi mata pisau itu sendiri. kita menjalankan misi dengan tujuan dua kepentingan yang bertolak belakang satu dengan yang lainnya.


Pada satu sisi kita harus berpedoman pada prinsip ekonomi dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya, sedangkan sisi lain kita harus menjalankan misi konservasi yang ketat dengan nilai-nilai perlindungan yang tidak bisa ditawar-tawar. Oleh karena itu, dalam perjalanannya sering terjadi menjurus pada hanya satu sisi, biasanya karena kuatnya pengaruh manajemen yang digariskan pengelola sebagai pengambil kebijaksanaan.


Kriteria Pengembangan Ekowisata

Pengembangan ekowisata memiliki kriteria khusus. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijaksanaan pengembangan ekowisata, yang penting diantaranya adalah cara-cara pengelolaan, pengusahaan, penyediaan prasarana dan sarana yang diperlukan.


Atas dasar itu, sifat dan jenis kegiatan yang dilakukan juga harus disesuaikan dengan kriteria tersebut pada setiap kawasan ekowisata. Satu hal yang tidak pernah dilupakan adalah masalah pelestarian lingkungan hidup yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan ekowisata.


Daerah yang biasa dijadikan kawasan ekowisata

Adapun daerah-daerah yang biasa dijadikan kawasan ekowisata, baik di luar negeri maupun dalam negeri adalah:


Daerah atau wilayah yang diperuntukkan sebagai kawasan pemanfaatan berdasarkan rencana pengelolaan pada kawasan seperti Taman Wisata Pegunungan, Taman Wisata Danau, Taman Wisata Pantai, atau Taman Wisata Laut.

Daerah atau zona pemanfaatan pada Kawasan Taman Nasional seperti Kebun Raya Bogor, Hutan Lindung, Cagar Alam, atau Hutan Raya.

Daerah pemanfaatan untuk Wisata Berburu berdasarkan rencana pengelolaan Kawasan Taman Perburuan.

Ketiga jenis daerah atau lokasi pengembangan ekowisata tersebut merupakan lokasi yang boleh dan dapat dimanfaatkan secara intensif untuk pengembangan sarana dan prasarana untuk aktivitas ekowisata. Kriteria lain untuk pengembangan lokasi ekowisata harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:


Kelayakan pasar dan kapasitas kunjungan.

Tersedianya aksesibilitas yang memadai ke daerah tersebut.

Potensi yang dimiliki daerah untuk dijadikan kawasan ekowisata.

Dapat mendukung pengembangan wilayah lain di daerah tersebut.

Memberi peluang bagi pengembangan kegiatan sosial, ekonomi, dan kebudayaan bagi masyarakat setempat.

Mempunyai kemungkinan besar untuk saling mendukung pengembangan pariwisata di daerah setempat.

Dapat saling mendukung bagi pengembangan pelestarian kawasan hutan bagi daerah tersebut.

Kriteria pemilihan lokasi ekowisata

Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI) memberi kriteria pemilihan lokasi sebagai berikut:


Daerah itu harus memiliki keunikan yang khusus dan tidak terdapat di tempat lain, seperti Kepulauan Nias, Pagai, atau Enggano yang memiliki etnis berbeda dengan suku bangsa lainnya di Indonesia.

Memiliki atraksi seni budaya yang unik dan berbeda dengan suku bangsa lainnya, seperti Badui, Tengger, Toraja, Dayak, Kubu, atau Sakai.

Adanya kesiapan masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam proyek yang akan dibangun.

Peruntukkan kawasan tidak meragukan.

Tersedia sarana akomodasi, rumah makan, dan sarana pendukung lainnya.

Tersedia aksesibilitas yang memadai dan dapat membawa wisatawan dari dan ke kawasan yang akan dikembangkan. 


Referensi: Studi Pariwisata